Minggu, 13 April 2014

Untukmu yang bermata hijau

Selasa, 11 Maret 2014

Relung hatiku sudah seperti lapak kering tak berpenghuni. Kosong.
Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir ini yang setahun lalu masih kau miliki. Hanya lelehan air mata yang mengucur dari sudut mata yang setahun lalu masih kau kagumi. Semuanya kini luluh lantak, tak ada cahaya dan suram diselimuti hawa dingin. Sungguh aku tak bohong, inilah yang aku rasakan. Sehebat inilah kekecewaanku padamu yang setahun lalu masih bernafas bersamaku.
Sekian lamanya aku menumpuk mimpi dan asa yang kian menggunung, namun semua itu kau musnahkan dalam sepersekian detik setelah kata-kata itu kau ucapkan. Bak sebuah gunung yang tenteram dan subur, yang tiba-tiba meletus tanpa permisi dan memusnahkan semuanya. Seperti itulah aku sekarang...kering kerontang, pucat pasi, hidup namun tak punya mimpi.
Oh sayang,,,,kau mengatakan semuanya terlalu terlambat. Setelah harapanku berbaur dengan rindu yang menumpuk sampai di ubun-ubun, kau baru mengatakan itu semua...
Tahukah kau hatiku sangat terpukul dan tertusuk. Tak heran jika aku melarikan diri dan mengasingkan diri setelah ini terjadi..mungkin ini terkesan berlebihan jika aku harus menemui seorang ahli jiwa untuk menenangkan jiwa yang tengah tercabik ini, tapi aku benar-benar menemuinya. Aku bilang aku tengah remuk redam karenamu dan aku hilang arah....sang ahli jiwa hanya memberikanku ketenangan yang hanya sekejap harus hilang entah kemana. Aku masih belum pulih....entah dimana dan kepada siapa aku harus mendekat agar aku pulih.
Bagaimana aku bisa pulih jika memori denganmu saja sudah tak terhitung banyaknya. Aku masih simpan semuanya, aku masih memeluknya erat2 dan aku tak akan melepaskannya begitu saja. Terlalu indah...
Namun kau memungkiri semuanya...kau pungkiri segala rasa yang ada dan kau tak mau berjuang untuk memeluk rasamu erat-erat. Aku kecewa karena kau tak sepertiku yang masih bertahan menggenggam rasa untukmu. Aku kecewa. Dan kau tahu itu, namun kau tak melakukan apa-apa...
Mungkin aku akan pergi saja.....sejauh mungkin yang aku bisa. Aku tahu kau khawatir. Tetapi apa mau dikata? Aku tak tahan menerima kenyataan yang harus aku hadapi. Pun aku tak kuat melihat diriku dalam kubangan abu.
Sudahlah,,kita memang berbeda. Mata kita berbeda, warna kita berbeda. Mau apa lagi? Kau hanya tak mau berusaha lebih keras lagi agar perbedaan kita bisa menjadi sesuatu yang teramat indah. Ah, sudahlah....kau mungkin saat ini sudah tak peduli lagi denganku. Sudah...sudahlah. Hatiku sudah mati dan sunyi.
Aku takkan membencimu, jadi tak usah khawatir.


Untukmu, yang bermata hijau,,disana.