Selasa, 11
Maret 2014
Relung
hatiku sudah seperti lapak kering tak berpenghuni. Kosong.
Tak ada kata-kata yang
keluar dari bibir ini yang setahun lalu masih kau miliki. Hanya lelehan air
mata yang mengucur dari sudut mata yang setahun lalu masih kau kagumi. Semuanya
kini luluh lantak, tak ada cahaya dan suram
diselimuti hawa dingin. Sungguh aku tak bohong, inilah yang aku rasakan. Sehebat
inilah kekecewaanku padamu yang setahun lalu masih bernafas bersamaku.
Sekian lamanya aku menumpuk mimpi dan asa yang kian menggunung, namun
semua itu kau musnahkan dalam sepersekian detik setelah kata-kata itu kau
ucapkan. Bak sebuah gunung yang tenteram dan subur, yang tiba-tiba meletus
tanpa permisi dan memusnahkan semuanya. Seperti itulah aku sekarang...kering kerontang,
pucat pasi, hidup namun tak punya mimpi.
Oh
sayang,,,,kau mengatakan semuanya terlalu terlambat. Setelah harapanku berbaur
dengan rindu yang menumpuk sampai di ubun-ubun, kau baru
mengatakan itu semua...
Tahukah
kau hatiku sangat terpukul dan tertusuk. Tak heran jika aku melarikan diri dan
mengasingkan diri setelah ini terjadi..mungkin ini terkesan berlebihan jika aku
harus menemui seorang ahli jiwa untuk menenangkan jiwa yang tengah tercabik
ini, tapi aku benar-benar menemuinya. Aku bilang aku tengah remuk redam
karenamu dan aku hilang arah....sang ahli jiwa hanya memberikanku ketenangan
yang hanya sekejap harus hilang entah kemana. Aku masih belum pulih....entah
dimana dan kepada siapa aku harus mendekat agar aku pulih.
Bagaimana
aku bisa pulih jika memori denganmu saja sudah tak terhitung banyaknya. Aku
masih simpan semuanya, aku masih memeluknya erat2 dan aku tak akan
melepaskannya begitu saja. Terlalu indah...
Namun
kau memungkiri semuanya...kau pungkiri segala rasa yang ada dan kau tak mau
berjuang untuk memeluk rasamu erat-erat. Aku kecewa karena kau tak sepertiku
yang masih bertahan menggenggam rasa untukmu. Aku kecewa. Dan kau tahu itu,
namun kau tak melakukan apa-apa...
Mungkin
aku akan pergi saja.....sejauh mungkin yang aku bisa. Aku tahu kau khawatir.
Tetapi apa mau dikata? Aku tak tahan menerima kenyataan yang harus aku hadapi. Pun aku tak kuat melihat diriku dalam kubangan abu.
Sudahlah,,kita
memang berbeda. Mata kita berbeda, warna kita berbeda. Mau apa lagi? Kau hanya
tak mau berusaha lebih keras lagi agar perbedaan kita bisa menjadi sesuatu yang
teramat indah. Ah, sudahlah....kau mungkin saat ini sudah tak peduli lagi
denganku. Sudah...sudahlah. Hatiku sudah mati dan sunyi.
Aku
takkan membencimu, jadi tak usah khawatir.
Untukmu,
yang bermata hijau,,disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar